12 December 2025

Class Meet dan Tantangan Membentuk Generasi Pemikir

Editor Website

Informasi Umum

Dipublikasikan 12 December 2025
Bagikan
  • 164

<p>&lt;p&gt;Menjelang akhir semester, hampir semua sekolah di Indonesia memiliki satu tradisi yang selalu muncul seperti musim: class meet. Sebuah ritual tahunan yang bagi sebagian siswa menjadi alasan untuk bangun lebih pagi dengan semangat, tetapi bagi sebagian lainnya hanyalah jeda yang panjang sebelum pembagian rapor. Meski mengandung kata &amp;ldquo;meet&amp;rdquo;, kegiatan ini tidak pernah menyerupai pertemuan pemikir. Tidak ada forum gagasan, tidak ada ruang diskusi, tidak ada percikan ide yang memantik perubahan. Yang tersisa justru deretan lomba fisik yang itu-itu saja, dari tahun ke tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Class meet akhirnya menjadi panggung bagi mereka yang memang suka tampil dan memiliki keberanian mental untuk berkompetisi di hadapan banyak orang. Bagi mereka, inilah waktu terbaik untuk mengukuhkan eksistensi, memamerkan ketangkasan, dan menegaskan identitas kelas. Namun bagi siswa yang tidak gemar tampil, yang lebih nyaman bekerja dalam senyap, yang justru kuat dalam pemikiran, analisis, dan kreativitas, class meet sering kali tidak lebih dari kegiatan yang &amp;ldquo;menghabiskan waktu&amp;rdquo; tanpa nilai tambah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada titik inilah kritik diperlukan. Jika sekolah adalah ruang tumbuh semua jenis kecerdasan, maka acara akhir semester pun semestinya mencerminkan keberagaman itu. Dunia tidak hanya dihuni oleh para pelari cepat, penari energik, atau pemain futsal andal. Dunia juga membutuhkan perancang strategi, pemikir solutif, komunikator, analis, serta pencipta ide yang biasanya bergerak jauh dari sorot sorotan panggung. Kebutuhan ini semakin terasa di era industri 5.0, ketika kreativitas, kolaborasi, dan kecakapan bahasa global menjadi modal penting.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SMK Telkom Malang membaca gelombang perubahan itu. Di sekolah yang sedang menyiapkan diri menuju standar internasional ini, class meet bukan hanya menjadi wadah menyegarkan pikiran setelah pekan ujian, tetapi juga kesempatan untuk memperluas kompetensi siswa. Tahun ini, sekolah menghadirkan program yang jauh dari sekadar lomba ketangkasan. Tim kurikulum merancang sebuah terobosan bernama Moklet Bilingual Program, yang kemudian dikemas secara dinamis melalui event Mobi Pro English Week.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama 8 sampai 12 Desember 2025, siswa tidak hanya berkeringat, tetapi juga terlatih berpikir cepat, berkomunikasi spontan, dan berkolaborasi dalam konteks global. Tema Unleash the Magic, Embrace the Language menjadi simbol bahwa bahasa punya kekuatan transformasi. Program ini menyiapkan para siswa untuk tumbuh sebagai bilingual global yang siap memasuki ranah digital talent tingkat dunia sejalan dengan identitas baru sekolah sebagai School of Global Digitalent.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rangkaian kegiatannya pun dirancang untuk menantang kecerdasan yang lebih luas. The Quiz of Champions menguji pengetahuan umum dan nalar kritis dalam format eliminasi yang memacu adrenalin. Cheers Battle menguji kekompakan sekaligus kreativitas seluruh kelas. Hot Seat Competition menggabungkan kelincahan fisik dengan kecerdasan instruksional. Sementara The Floor is Lava menuntut strategi, komunikasi, dan ketelitian dalam tekanan waktu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan pendekatan seperti ini, class meet bukan hanya tentang siapa yang paling kuat fisiknya, tetapi siapa yang paling mampu beradaptasi, berpikir, dan berbahasa. Inilah jenis kegiatan yang seharusnya tumbuh di sekolah: acara yang inklusif, menantang, dan relevan dengan masa depan siswa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Class meet memang momen pendinginan setelah pekan ujian. Tetapi pendinginan tidak harus berarti kegiatan tanpa makna. Sebaliknya, inilah saat paling tepat untuk mengembalikan semangat belajar dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan tetap bernilai. Dunia kerja saat ini tidak menunggu siapa yang paling sering menang lomba voli antar kelas. Dunia menunggu mereka yang mampu berpikir cepat, berkomunikasi dalam bahasa global, dan menghadirkan solusi dalam lanskap digital yang terus berubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika class meet ingin tetap relevan, maka ia harus berani berevolusi. SMK Telkom Malang telah memulai langkah itu. Dan barangkali, sudah waktunya tradisi ini juga berubah di banyak sekolah lain di Indonesia.&lt;/p&gt;</p>



Lenovo
Alibaba Store
Sevima
Merkle Innovation
Jagoan Hosting
Livin Mandiri
Boxhill
Globalxtreme
Fortinet
ITC